Selasa, 07 September 2010

PENCARIAN







  

GALERI

CSR
CSR

More Photo...

RSS Feeds

Profil Industri Telematika (ICT) Indonesia

Oleh csrreview-online.com
26 Maret 2010

Profil Industri Telematika (ICT) Indonesia

Industri Telematika (Information and Communication Technology – ICT) merupakan salah satu industri prioritas yang akan dan sedang dikembangkan Pemerintah melalui Kebijakan Pembangunan Industri Nasional. Industri Telematika sendiri saat ini merupakan industri yang sedang berkembang dengan pesat di dunia dengan pertumbuhan 6,9 % per tahun. Pada tahun 2004 pasar telematika dunia mencapai US$ 533 miliar, sedangkan pasar telematika Asia tercatat US$ 42 miliar dengan pertumbuhan 23% per tahun.

Pasar sektor ini di Indonesia tercatat baru sekitar US$ 1,3 miliar dengan pertumbuhan pada tahun 2004 dan 2005 masing-masing sebesar 9,8 % dan 22,1 %. Dari jumlah itu, diperkirakan sebesar US$ 0,5 miliar sampai US$ 0,75 miliar diserap oleh sektor perbankan.

Industri Telematika terdiri atas kelompok barang dan jasa, meliputi industri Komputer, industri Periferal, industri Peralatan Komunikasi, industri software (perangkat lunak), industri Animasi, dan industri Multimedia. Industri Telematika didukung oleh industri elektronika untuk penyediaan semikonduktor, komponen dan modul bagi industri komputer dan periferal. Bagi negara berkembang, perangkat lunak dan jasa pada umumnya memiliki peluang yang lebih besar karena relatif tidak memerlukan investasi besar dalam riset dan peralatan pendukung produksi. Hal ini terutama disebabkan perangkat lunak lebih berbasis pada tenaga kerja berpengetahuan.

Komposisi terbesar industri Telematika Indonesia adalah industri consulting service yang menguasai 50 – 65 persen dari komposisi industri yang ada. Posisi kedua adalah industri perangkat lunak multimedia yang diperkirakan mencapai 30 – 40 persen, sedangkan industri perangkat keras hanya 5 – 10 persen dari keseluruhan industri Telematika Indonesia. Pangsa pasar perangkat keras di Indonesia merupakan yang terbesar, yaitu sebesar 979,9 juta dolar AS, disusul oleh industri consulting services sebesar 211,7 juta dolar AS dan industri perangkat lunak sebesar 110,3 juta dolar AS dengan nilai produksi sebesar Rp 40,3 triliun dan nilai ekspor sebesar 2,8 miliar dolar AS dan mamu menyerap tenaga kerja sebanyak 58 ribu orang.

Kebijakan Pengembangan Industri Telematika Nasional

Terdapat empat langkah utama yang perlu dilakukan untuk mendorong terbentuknya Industri Telematika Nasional yang kokoh dan mandiri, yaitu pengembangan infrastruktur telematika dengan membangun kemampuan nasional untuk dapat memproduksi perangkat keras dan perangkat lunak, pengembangan sumber daya manusia (SDM), penciptaan regulasi yang kondusif (perundangan dan kebijakan teknologi industri), serta pengembangan pasar domestik yang berpihak kepada industri dalam negeri.

Langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan industri telematika antara lain dengan menetapkan industri pendorong pertumbuhan, dan memfokuskan pada industri perangkat keras dan lunak komputer, industri peralatan telekomunikasi, industri semikonduktor, industri komponen dan modul dengan strategi pengembangan setiap jenis industri disesuaikan dengan karakteristiknya masing-masing. Selanjutnya langkah-langkah pengembangan industri Telematika dilakukan melalui pelaksanaan program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Target Pertumbuhan Industri Telematika

Uraian

2006

2007

2008

1.

Pertumbuhan Industri (%)

10,4

10,5

11,2

2.

Produksi (Triliun Rp)

40,33

45,73

49,70

3.

Ekspor (juta US$)

2.830

3.020

3.400

4.

Impor (juta US$)

2.097

2.431

2.800

5.

Tenaga Kerja (ribu orang)

58

60

67

6.

Utilisasi (%)

67

70

72

7.

Investasi (juta US$)

48,2

54,7

60,8

(Sumber: Departemen Perindustrian)

Program dan Rencana Aksi Industri Telematika Nasional
Berikut ini adalah Program dan Rencana Aksi Industri Telematika Nasional berdasarkan Roadmap Industri Alat Transportasi dan Telematika yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian Republik Indonesia.

A.      Program Jangka Pendek (s.d. 2010)
Program dan rencana aksi yang sedang dan akan dilakukan dalam waktu dekat antara lain:

·         Mendorong peningkatan penggunaan produk telematika dalam negeri

·         Meningkatkan kerja sama antarinstansi terkait dengan dunia usaha di bidang litbang, standarisasi, dan teknologi

·         Pendirian dan penguatan Pusat Desain Produk-produk Telekomunikasi

·         Pendirian dan penguatan Pusat Animasi dan Konten

·         Penyempurnaan iklim usaha

·         Fasilitasi penguatan dan pengembangan klaster telematika

·         Penguatan kelembagaan RICE dan IBC di daerah potensial

·         Penyempurnaan peraturan yang berkaitan dengan infrastruktur dan skim insentif.

Regional IT Centre of Excellence (RICE) dan Incubator Business Centre (IBC) adalah suatu program kegiatan di suatu kawasan yang menyediakan sarana di bidang produksi, pendidikan, konsultasi usaha, pemasaran, dan lain-lain; yang saling berintegrasi untuk meningkatkan kemampuan SDM IT, terutama Software House dan penumbuhan wirausaha baru di bidang IT. Beberapa program yang dapat ditawarkan adalah: service providers, technical assistance, infrastruktur dan fasilitas, ASP (Application Service Provider), web hosting, B2B and B2C portals, training, dan lain sebagainya. Sasarannya adalah untuk memperkuat struktur industri teknologi informasi Indonesia dan menjadikan industri perangkat lunak sebagai andalan dalam menumbuhkan perekonomian nasional. Dengan berdirinya lembaga yang bersifat profit organization dan profesional ini, diharapkan dapat memberikan solusi yang terbaik bagi para pengguna jasa di dalam negeri maupun di luar negeri.

A.      Program Jangka Menengah (2011 – 2020)

Program dan rencana aksi Jangka Menengah untuk mengembangkan industri Telematika Nasional adalah:

·         Mendorong dan memperkuat upaya peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) produk-produk telematika.

·         Memperkuat kerja sama litbang dan teknologi dengan institusi litbang perusahaan multinasional (MNC).

·         Mendorong upaya untuk menghasilkan produk-produk inovatif dari produk perangkat lunak, animasi dan konten serta produk-produk telekomunikasi.

·         Mendorong dan memperkuat kemampuan RICE dan IBC dalam menghasilkan SDM yang berkompetensi tinggi.

·         Mendorong aliansi strategis dari industri telematika dalam negeri dengan mitra luar negeri.

·         Mendorong dan meningkatkan kemampuan Rancang Bangun dan Rekayasa Industri Telematika Nasional.

·         Pendirian dan pengembangan Kawasan Khusus Telematika, Technopark, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Pembangunan Kawasan Pengembangan Telematika
Konsep Kawasan Pengembangan Teknologi Informatika (Hi-Tech Valley), yaitu suatu daerah khusus yang diperuntukkan bagi kegiatan pengembangan teknologi tinggi di bidang Telematika, yang didukung oleh: High Technology Park dan perguruan tinggi penghasil S2 dan S3 bidang telematika, yang didukung modal ventura, dan pertukaran graduate engineers di bidang telematika yang bekerja sama dengan universitas-universitas ternama di AS, Jepang, taiwan, Korea, dan Jerman dengan bahasa pengantar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.. Dengan adanya Kawasan Pengembangan Teknologi Informatika diharapkan kegiatan penelitian, pengembangan, dan rekayasa dapat dilaksanakan lebih produktif untuk menghasilkan Telematika dan pemanfaatannya, agar dapat membantu meningkatkan industri dan perdagangan barang dan jasa menjadi kompetitif secara global.

Bandung High Technology Valley (BHTV)
Pada dasarnya, konsep BHTV adalah mengembangkan kawasan Bandung Raya menjadi kawasan pertumbuhan teknologi, SDM, dan industri elektronika dengan fokus pada telematika seperti perangkat lunak, desain IC, semikonduktor, dan komponen. Salah satu target pokok pembangunan BHTV adalah menunjang ekspor sektor telematika dan elektronika melalui investasi asing (Foreign Direct Investment – FDI) di kawasan Bandung Raya, dan pemasok SDM, support teknologi bagi cluster lain.

Konsep dilandaskan oleh Indonesia Electronic Supersite, yaitu adanya sebuah Koridor yang dimulai dari Cilegon, menuju Jakarta, kemudian Cikarang, Purwakarta, Padalarang, dan akhirnya diletakkan “jangkar” di Bandung. Di sepanjang koridor tersebut diharapkan ada industri-industri telematika dan elektronika yang sifatnya besar (PMA) dan kecil menengah. Aktivitas di Indonesia Electronic Supersite merupakan pasar sekaligus pendukung pengembangan industri telematika dan elektronika.

Pembangunan Kawasan Khusus Telematika (Supersite)
Pembangunan Supersite berangkat dari pemikiran bahwa industri akan memiliki daya saing tinggi, mutlak ditunjang oleh pengembangan infrastruktur fisik terpadu, perampingan peraturan, prosedur investasi dan operasional, pelayanan satu atap dan skim insentif yang kondusif.

Supersite adalah area manufaktur yang luas dan dapat juga berupa aglomerasi dari beberapa kawasan industri, berlokasi di daerah yang mudah dijangkau melalui jalan bebas hambatan/toll dari bandar udara internasional, pelabuhan samudera, industri penunjang. Dalam operasional, supersite ini akan ditopang dengan kebijaksanaan khusus, yaitu tiga jalur kemudahan dan skim insentif.

Tiga Jalur Kemudahan

Jalur 1, Transportasi, keluar/masuk kargo dari/ke wilayah Indonesia (impor/ekspor) akan mendapat perlakuan khusus yang dapat mempercepat proses sehingga memenuhi waktu siklus yang pendek.
Jalur 2, SDM/Tenaga Ahli Asing, untuk pemegang kartu khusus atau izin kerja di perusahaan dalam supersite, akan mendapatkan perlakuan imigrasi yang lebih cepat (menggunakan smart-card).
Jalur 3, Administrasi, perizinan lebih sederhana dan cepat, keluar masuk barang impor, ekspor akan menggunakan EDI yang terhubung dengan jaringan nasional dan internasional.

Skim Insentif
Kepada perusahaan industri di dalam supersite yang memproduksi minimal satu produk telematika yang tercakup pada daftar produk ITA (Product Coverage ITA – deklarasi Menteri, di Singapura Desember 1996), berorientasi ekspor dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah diusulkan akan diberikan insentif pajak maksimum 10 tahun, dan mendapat pelayanan jasa terpadu yang akan diberikan oleh perusahaan yang dibentuk untuk itu, yaitu IEDC (Indonesian Electronic Development Corporation).

Untuk mendukung program itu, akan dilakukan:

·         Inventarisasi kemampuan dalam negeri

·         Penyusunan paket penawaran dan pemasaran kepada calon penanam modal dalam negeri dan asing.

·         Pemilihan terget perusahaan kelas dunia di bidang Telematika

·         Program road show untuk menjaring calon penanam modal.

·         Follow-up dengan pendekatan “project management” bagi setiap perusahaan target.

B.      Program Jangka Panjang (2021 – 2025)

Program dan rencana aksi Jangka Menengah untuk mengembangkan industri Telematika Nasional adalah:

·         Mendorong kemampuan dalam penguasaan Rancang Bangun dan Rekayasa bidang Telematika.

·         Meningkatkan kerja sama dan aliansi strategis dengan perusahaan telematika terkemuka di dunia dalam hal pengembangan ekspor dan teknologi.

Kemampuan Industri Telematika Nasional
Saat ini, Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang cukup besar, terampil, dan berpengalaman dalam industri Telematika. Beberapa industri kelas dunia saat ini juga telah berinvestasi di Indonesia, misalnya Microsoft, Oracle, IBM, dan lain-lain. Selain itu, industri pendukung/komponen untuk industri Telematika juga telah ada di Indonesia, seperti industri IC, CRT komputer, LCD telepon seluler/kamera digital, lensa digital, PCB, dan komponen. Indonesia juga telah dapat memproduksi plastik serta komponen casting/forging. Tersedianya infrastruktur Nusantara 21, masih bertahannya industri manufaktur terbesar dan tertua, dan pengalaman sebagai Industri manufaktur untuk produksi Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) dengan lisensi Siemens juga mendukung industri telematika nasional.

Namun, lingkungan usaha telematika nasional belum kondusif sepenuhnya terutama karena belum adanya kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan masalah ketenagakerjaan. Dukungan litbang dan transfer teknologi juga masih lemah karena terbatasnya pembiayaan. Standar sistem keamanan bagi produk telematika ternyata juga belum tersedia. Selain itu, keterbatasan pasar ekspor; keterbatasan SDM yang profesional sebagai wirausahawan di bidang pengembang industri telematika; tingginya tingkat pembajakan produk perangkat lunak; tingkat ketergantungan barang modal, komponen dan bahan baku impor yang hingga saat ini masih cukup tinggi sehingga mudah terpengaruh oleh perubahan global; serta potensi usaha berbasis teknologi informasi, misalnya industri Animasi yang belum dikembangkan secara optimal; menjadi penghambat pengembangan industri telematika nasional.

Peluang Indonesia dalam mengembangkan industri telematika nasional terletak pada penyediaan konten dalam pengembangan jasa telekomunikasi baru oleh industri perangkat lunak yang cukup baik; peluang pasar dalam negeri untuk produk-produk telematika secara keseluruhan yang cukup besar setelah AS, Cina, dan India; belum dimanfaatkannya pasar bebas AFTA, APEC, dan WTO secara optimal; serta belanja produk telekomunikasi dalam negeri baru dimanfaatkan sebesar kurang dari 5%.

Iklim investasi dan insentif yang lebih menarik di negara pesaing ternyata dapat menarik banyak pekerja profesional telematika untuk bekerja di perusahaan di luar negeri. Selain itu, cepatnya perkembangan dan perubahan teknologi di bidang IT serta kolaborasi yang telah dilakukan industri telematika beberapa negara ASEAN dengan industri terkemuka di dunia menjadi ancaman bagi pengembangan industri telematika nasional.

Industri Semikonduktor Nasional

A.      Industri Semikonduktor

Industri semikonduktor telah tumbuh di dalam negeri. Saat ini terdapat lima pabrik semikonduktor di Indonesia yang merupakan perusahaan-perusahaan multinasional, yaitu Omedata Electronics, Sharp Semiconductor, Matsushita Semiconductor, NEC Humpuss Semiconductors Indonesia, dan Unisem. Jenis-jenis IC yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri antara lain adalah: bipolar IC, linear IC, RAMS, DRAMS, MOS, optoelectronics. Semikonduktor ini merupakan produk yang memiliki pertumbuhan permintaan yang sangat besar di dunia, yang diperkirakan mencapai lebih dari 15% per tahun.

Hampir semua alat maupun perkakas sedikit atau banyak bertumpu pada teknologi elektronika. Oleh sebab itu, hampir semua aspek kehidupan manusia dipengaruhi oleh penggunaan bahan semikonduktor dalam produk-produk elektronik. Penggunaan semikonduktor dalam berbagai peralatan elektronik akan meningkat seiring dengan semakin canggihnya produk elektronik. Semikonduktor diperkirakan paling banyak dipakai oleh industri komputer (57%), peralatan komunikasi (17%), peralatan elektronik rumah tangga (15%) dan sisanya sekitar 11% untuk keperluan lainnya, seperti peralatan militer, otomotif, dan mesin industri.

 

 

 

B.      Industri Modul dan Komponen

Berbagai jenis modul dan komponen untuk perangkat keras telematika sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Modul-modul dan komponen yang telah dibuat di dalam negeri antara lain adalah crystal resonator, power supply, floppy disk, kabel printer, stabilizer, switching, dan lain-lain. Beberapa komponen/modul perangkat keras ini merupakan andalan utama ekspor telematika. Pertumbuhan ekspor komponen/modul telematika pada tahun 2000 – 2005 mencapai 0,28% per tahun. Dalam periode Januari–Agustus 2005 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu 33,24%, di mana nilai ekspor pada tahun 2004 mencapai US$ 2,30 milyar. Diharapkan komoditi ini akan tetap merupakan andalan ekspor di masa mendatang.

Industri Komputer dan Periferal
Industri komputer tanah air setiap tahun terus mengalami peningkatan. Diperkirakan, pertumbuhan akan mencapai 20 hingga 25 persen per tahun. Pasar komputer Indonesia saat ini masih dikuasai oleh produksi dalam negeri. Pangsa pasar komputer built-up mencapai 40 persen, sementara pangsa pasar komputer lokal mencapai 60 persen. Jumlah komputer terjual di pasar Indonesia mencapai 2 juta unit tiap tahunnya.

Pertumbuhan industri komputer di tanah air diperkirakan mampu mencapai 30 hingga 40 persen jika revisi undang-undang bea masuk komponen komputer telah disetujui pemerintah. Dengan bea masuk nol persen terhadap komponen komputer, harga komputer akan turun sehingga perakit komputer pun akan semakin banyak.

Peluang pasar komputer di Indonesia masih terbuka lebar. Sampai saat ini, rasio komputer (PC) dibanding jumlah penduduk masih di bawah 10% atau sekitar 25 juta unit PC dari sekitar 220 juta penduduk. Sangat tertinggal dibanding negara-negara tetangga seperti Malaysia yang sudah mencapai rasio 40% dan Thailand 35 %. Indonesia hanya lebih baik dibanding India, Myanmar, dan Vietnam.

Namun, melihat tingkat pertumbuhan pasar yang diperkirakan sekitar 20% per tahun, lembaga riset market TI – Forester, meramalkan Indonesia di masa depan akan menjadi pasar paling potensial untuk industri PC, dari hanya 2,6 juta kepemilikan PC di tahun 2003, diperkirakan akan tumbuh menjadi 40 juta di tahun 2010.

Tingginya ekspektasi ini, karena memang masih banyak potensi pasar PC yang belum digarap. Terutama di sektor usaha bisnis kecil menengah. Dari sekitar 3,73 juta unit usaha kecil menengah (UKM), yang menguasai sekitar 70 persen roda ekonomi Indonesia, baru 18 persen yang telah menggunakan PC dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga pasar ini merupakan peluang potensial baik untuk kebutuhan perangkat keras maupun lunak. Pola konsumsi pasar diharapkan juga akan berubah sehingga meningkatkan pasokan sampai 71 persen untuk mencukupi konsumen sektor bisnis, sedang konsumsi pemerintahan 17 persen, retail 9 persen, dan sekitar 3 persen untuk konsumsi sektor pendidikan.

Merk-merk komputer yang mendominasi pasar, yaitu Hewlett-Packard/Compaq, Acer, IBM, Dell, Toshiba, Zyrex, Mugen. Hewlett-Packard/Compaq menguasai sekitar 33 persen pasar desktop dan juga sekitar 90 persen pasar kebutuhan server. PC branded dari Amerika Serikat seperti Hewlett-Packard/Compaq, Dell, dan IBM dikenal sebagai pemasok utama kebutuhan PC bagi lembaga-lembaga internasional di Indonesia, dan perusahaan transnasional, seperti perusahaan minyak dan gas, bank, dan perusahaan bisnis keuangan.

Dominasi produk-produk komputer branded dari Amerika ini mendapat saingan ketat dari produk Jepang terutama di pasar Notebook. Dua merk notebook Jepang, Toshiba dan Fujitsu, menguasai pasar-pasar notebook. Bahkan Toshiba diperkirakan mendominasi pasar notebook sampai 35 persen. Sedangkan notebook Fujitsu populer bagi konsumen Indonesia karena kecanggihan teknologi nirkabelnya dan ketahanan modelnya. Pasar produk impor untuk PC desktop dikuasai produk-produk dari Amerika Serikat, sedangkan notebook dikuasai merk-merk produk Jepang.

Di  antara merk-merk dari Jepang dan Amerika ini, terselip Acer dari Taiwan, yang menguasai sekitar 10 persen pasar desktop, server, maupun notebook. Beberapa tahun lalu, Acer terkenal sebagai komputer yang murah, dan menjadi merk paling populer di pasar menengah ke bawah.

Merk Samsung dari Korea saat ini juga mulai mendapat tempat di pasaran. Terutama setelah dipublikasikan sebagai PC murah berkualitas bagus oleh media TI. Samsung mempunyai pabrik di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, untuk memproduksi monitor PC. Tidak hanya untuk memenuhi pasokan pasar domestik Indonesia tetapi juga ekspor. Merk-merk ini bersaing ketat dengan produk lokal yang lebih murah. Produk branded biasanya menawarkan kualitas, layanan, dan jaminan garansi. Sedangkan komputer produk lokal terkenal dengan harga yang murah.

Merk-merk PC rakitan lokal adalah Zyrex, Mugen, Relion, Wearness, Extron, IndoPC, Ion, Byon, GTC, dan ratusan merk lokal yang beredar dalam skala kecil di tiap daerah. Pasar komputer rakitan ini terutama untuk sektor usaha bisnis menengah ke bawah, warnet (warung internet), lembaga pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga serta individual. Harga yang murah dengan kualitas yang sebanding dengan komputer branded, merupakan daya pikat utama pasar domestik Indonesia yang berdaya beli rendah.

Kualitas prosuk-produk PC rakitan lokal memang tak kalah dengan komputer branded. Mereka memegang lisensi sebagai OEM (Original Equipment Manufacturer) dari Intel dan Microsoft, sehingga produk-produk mereka pun selalu sejalan dengan produk keluaran terbaru dari industri PC branded. Jika Intel mengeluarkan prosesor terbaru, industri PC lokal pun akan segera mendapatkannya juga, sehingga segera akan mengeluarkan produk PC dengan spesifikasi yang sama dengan PC branded.

Industri PC rakitan lokal sangat tergantung pada impor komponen. Seperti prosesor, memori, dan asesoris lain. Pemasok utama impor komponen berasal dari Jepang, Korea, Cina, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Ketergantungan pada impor komponen mambuat harga PC rakitan sangat dipengaruhi fluktuasi dollar, karena semua komoditi impor komponen dihargai dalam kurs US dollar.

Industri Komputer dan bagiannya, termasuk juga periferal komputer, sudah memberikan sumbangan nyata terhadap ekspor hasil industri telematika Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor Komputer dan bagiannya pada bulan Januari hingga September 2007 bernilai US$ 789,4 juta, turun sebesar 37,86% dari nilai ekspor tahun 2006. Pangsa nilai ekspor komputer dan bagiannya dari ekspor nonmigas sektor industri pada tahun 2007 adalah sebesar 1,42%.

Produsen eksportir perangkat keras komputer Indonesia antara lain adalah:

·         PT Central Rama Informatik (Centrin), sebagai eksportir motherboard, monitor, dan keyboard.

·         PT Pembina Galindra, sebagai eksportir monitor.

·         PT TVM Indonesia, sebagai eksportir monitor.

·         PT LG Electronics, sebagai eksportir monitor.

·         PT Benelux, sebagai eksportir periferal.

·         PT Indonesia Epson Industry, sebagai eksportir terminal printer.

Industri Perangkat Lunak
Indikator utama yang menunjukkan kemampuan produksi perangkat lunak di suatu negara adalah jumlah perusahaan pembuat perangkat lunak atau ISV (Independent Software Vendor) dan tentu saja jumlah profesional yang bekerja sebagai pengembang perangkat lunak. Meski demikian, produktivitas industri perangkat lunak di suatu negara tidak semata-mata ditentukan dari jumlah pengembangnya, melainkan dari berbagai faktor pendukung lainnya. Menurut prediksi IDC, di Indonesia ada sekitar 56.500 pengembang pada tahun 2006. India berada di urutan pertama dengan lebih dari 1 juta pengembang dan Cina di urutan kedua dengan jumlah pengembang 10 kali lebih besar dibanding Indonesia.

Potensi kontribusi industri perangkat lunak untuk pertumbuhan ekonomi juga menarik untuk ditelaah. Menurut hasil riset IDC, inisiatif perangkat lunak lokal mampu memberi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik bagi negara berkembang seperti Indonesia. IDC memprediksi dalam periode 2004 – 2009, sektor teknologi informasi (TI) di Indonesia akan membutuhkan sekitar 1.100 perusahaan TI baru yang dapat menyerap 81.000 tenaga kerja. Sekitar 29,9% dari total pekerja TI ini akan terlihat dalam pengembangan produk perangkat lunak lokal, distribusi atau implementasi produk perangkat lunak asing dan juga layanan custom development. IDC juga memprediksi bahwa perkembangan bisnis TI di Indonesia akan memberikan penghasilan pajak sebesar US$ 1,1 miliar kepada pemerintah jika dikelola dengan serius.

Dari sekitar Rp 600 miliar pasar perangkat lunak di Indonesia, pangsa pasar untuk perangkat lunak lokal ternyata hanya sekitar Rp 100 miliar. Masalah utama yang dihadapi oleh software house Indonesia sehingga kurang mampu bersaing adalah:

·         Keterbatasan pengetahuan dalam pengembangan perangkat lunak.

·         Kekurangan ide dalam produk dan inovasi karena kurangnya sarana penghubung dengan pihak yang membutuhkan dan mengembangkan perangkat lunak.

·         Kurangnya keterlibatan pemerintah untuk melindungi pemngembang perangkat lunak

·         Keterbatasan modal usaha, karena perusahaan perangkat lunak kebanyakan tidak memiliki aset nyata yang dapat digunakan sebagai agunan pinjaman ke bank. Hal ini terutama berdampak terhadap proyek yang dikategorikan besar.

Menurut Business Software Alliance (BSA), industri perangkat lunak yang memproduksi produk perangkat lunak masal di Indonesia dinyatakan mengalami kerugian sebesar US$ 3 juta atau sekitar RP 28 miliar. Hal itu turut mengakibatkan negara ikut merugi Rp 2,8 miliar (sedikitnya dari pajak dan cukai). Indonesia saat ini tercatat masuk nomor 3 dalam peringkat negara pembajak di bawah Vietnam dan Kamboja. Persentase pembajakan di Indonesia mencapai 87%. Sebuah studi yang diselenggarakan oleh IDC menemukan bahwa industri TI di Indonesia bernilai US$ 1 miliar dan pengurangan sebesar 10 poin terhadap persentase tingkat pembajakan tersebut dapat memacu pertumbuhan industri TI di Indonesia sampai dengan US$ 2,4 miliar.

Permasalahan Industri Telematika
Permasalahan yang dihadapi oleh sektor ini, hingga saat ini masih seputar rendahnya infrastruktur jaringan telekomunikasi; rendahnya penetrasi Internet; pasar yang masih dikuasai oleh pelaku dominan; masih relatif rendahnya kontribusi sektor telematika terhadap Pendapatan Nasional; makin terbukanya pintu bagi produk dan jasa asing untuk masuk ke Indonesia, sementara produk dan jasa Indonesia di bidang telematika yang diekspor ke luar negeri masih rendah dan seringkali tidak mampu bersaing di pasar global; serta belum adanya upaya serius dari pemerintah untuk memberi perhatian sepenuhnya terhadap pemanfaatan Internet dan dampaknya.

Dari sisi lingkungan, permasalahan yang mengemuka adalah masalah limbah elektronik yang berasal dari perangkat keras telematika, yaitu komputer, periferal, serta alat komunikasi bekas. Barang-barang bekas ini dikatakan sebagai limbah karena setelah tidak dapat dipakai, kemudian dibuang begitu saja tanpa pengolahan yang benar sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Limbah elektronik tersebut mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Dalam menanggapi isu lingkungan ini, beberapa produsen perangkat keras telematika di luar negeri, misalnya Toshiba Corporation, kemudian memberikan layanan purnaguna dengan menerima kembali produk-produk yang sudah tidak dapat dipakai tersebut untuk didaur ulang. Kebijakan serupa nampaknya belum dipublikasikan oleh produsen perangkat keras telematika dalam negeri, sehingga dapat disimpulkan bahwa produsen perangkat keras telematika dalam negeri belum memiliki layanan purnaguna semacam itu.

 

ads
ads
ads
Smart
Smart
Download
Maaf, anda harus login terlebih dahulu untuk mendownload Company Profile
Riau Andalan Pulp and Paper
Riau Andalan Pulp and Paper
Download
Maaf, anda harus login terlebih dahulu untuk mendownload Company Profile

More Company Profile...

The Business Watch Indonesia
Read More
Maaf, anda harus login terlebih dahulu untuk membaca advertorial

More Advertorial...